RRI.CO.ID, Makassar - Kualitas udara di wilayah Sulawesi Selatan, khususnya Makassar dan sekitarnya, terus mengalami penurunan akibat imbas kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ketua Tim Bidang Meteorologi BBMKG Wilayah IV Makassar, Rizki Yuda Pahlawan mengungkapkan, penurunan kualitas udara tersebut telah terpantau sejak akhir September 2026.
"Memang kami lihat terjadi proses penurunan kualitas udara ini sejak akhir September 2026, fluktuatif naik turun dalam kategori sedang hingga tidak sehat," kata Rizki saat diwawancarai dalam program Indonesia Sehat di Pro 1 RRI Makassar Minggu, 25 Oktober 2026.
Rizki menjelaskan, peningkatan konsentrasi partikel halus PM 2,5 menjadi penyebab utama menurunnya kualitas udara serta memburuknya jarak pandang visual masyarakat. Menurutnya, indeks partikulat bahkan pernah menyentuh level sangat tidak sehat pada pertengahan Oktober lalu.
"Bahkan di tanggal 13 sampai 14 Oktober lalu, indeks partikulat PM 2,5-nya menyentuh sampai kategori sangat tidak sehat," jelas Rizki.
Ia mengungkapkan, penyebaran kabut asap yang meluas di Sulawesi Selatan tidak hanya bersumber dari kebakaran lahan lokal, melainkan juga mendapat kiriman polutan dari wilayah lain seperti Papua Selatan yang terbawa angin kencang. "Asap yang berasal dari Papua Selatan terbawa satelit cuaca masuk sampai ke wilayah Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan karena dorongan angin timur," ujar Rizki.
Rizki menerangkan, pemakaian masker medis dinilai sudah cukup efektif meminimalisasi paparan polutan apabila masyarakat terpaksa beraktivitas di ruang terbuka. "Daripada keluar tidak memakai apa-apa, lebih baik memakai masker meskipun kita hanya menggunakan masker medis," terang dia.
"Jika konsentrasi PM 2,5 sudah di atas 50 mikrogram per meter kubik, masyarakat khususnya kelompok rentan sangat disarankan mengurangi aktivitas luar," ungkap Rizki.
Rizki menyebutkan, fitur kualitas udara real-time di aplikasi Info BMKG dapat diakses berdasarkan titik koordinat posisi pengguna secara presisi. "Di aplikasi Info BMKG sudah tersedia informasi tentang kualitas udara real-time berdasarkan titik lokasi tempat masyarakat berada," sebut Rizki.
Ketua Tim Bidang Meteorologi BBMKG Wilayah IV Makassar ini memprediksi bahwa kondisi udara terkontaminasi asap saat ini diperkirakan masih bertahan selama satu hingga satu setengah bulan ke depan sebelum datangnya musim hujan lebat. Rizki mengimbau kelompok rentan seperti ibu hamil, anak-anak, dan lansia untuk ekstra waspada serta memperbanyak konsumsi air putih selama cuaca panas terik.